Do the best and let God do the rest :)

Senin, 14 Juli 2014

YEH BHARAT KI KAHANI HAI

13 July 2014
Baru kali ini dapat waktu lowong untuk mengirim kabar melalui blog ini. Alhamdulillah India is beyond of my imagination. Everything is surprise me. Masih jelas memori tentang yudisium di tanggal 12 July 12, 2014, begitu ketua penguji menyatakan lulus dengan nilai A- rasanya saya tidak sanggup lagi menahan air mata. Perjuangan melalui 5 tahun mesih begitu terasa. Sehari sebelum menghadapi ujian sidang saya menelfon ayah masih tugas diluar kota. Beliau bilang, dia tak pernah menuntut saya untuk menyelesaikan gelar sarjana ini, dia tidak mengharapkan apapun dari ujian sidang ini. Dia hanya ingin saya memberikan yang terbaik dan berusaha semampu saya. Ketika saya flashback pada memori semester 2 dimana semua terasa berat untuk dilalui. Dan akhirnya tibalah saya di hari yudisium. Hari dimana saya secara resmi dinyatakan lulus di perguruan tinggi. Hari dimana saya mendapatkan gelar S.Si setelah 5 tahun berjuang. Tapi ini bukan tetang apa yang telah diraih dan diselesaikan, ini tentang apa yang telah dilalui dan semua proses yang membuat hidup menjadi lebih ini.
Saya selalu teringat motivasi Sabri, presiden AIESEC 14/15,

“Berjuanglah agar hasil yang kau peroleh akan terasa manis, apapun itu”

Perjuangan tidak hanya sampai disini, saya berfikir untuk memulai lembaran baru di belahan dunia lainnya, dan akhirnya AIESEC lah yang memberikan peluang ini. Saya memberi sedikit jeda sebelum menghadapi takdir lainnya. Saya memutuskan liburan di Bangkok selama 2 hari. Namun, ini bukan untuk liburan atau apapun itu. I just want to visit someone there. Almost is never enough, I just feel that I supposed to have more time in Bangkok, but I felt more excited about India.

17 July 2014, 01.00 am. Next flight to Calcutta, and thanks for everything Hamad Sultan ! I enjoyed Bangkok. It was really good holiday J. Saya sedikit nervous di bandara, mungkin karena ini pertama kalinya saya melakukan perjalanan panjang seorang diri. Saya mendobrak zona nyaman saya. Saya menentesakan air mata dan akhirnya tersadar inilah kehidupan  baru akan dimulai. Mungkin seperti inilah kehidupan di hari kemudian, tak seorangpun peduli tentang apa yang ada pada dirimu, semuanya sibuk mengurusi apa yang menjadi urusan mereka. Saya merasa kecil di dunia ini. Tiba di Calcutta pukul 3 subuh dini hari membuat tubuh saya mencoba beradaptasi, tak seorang pun saya kenal, saya agak canggung dan akhirnya memutuskan untuk membaringkan diri di sebelah koper saya. Saya ingin menangis, ingin memeluk sesorang dan ingin bercerita tentang ketakutan saya. Saya mencoba menenangkan diri dan mencari kafe di sekeliling saya, dan akhirnya pilihan saya jatuh pada kedai kecil dengan menu lemon tea hangat. Namun perut saya masih keroncongan. Penerbangan berikut saya masih 7 jam lagi. Rasa lapar dan ingin tidur menyerang bersamaan. Saya mendatangi kedai yang sama menanyakan menu nasi. Dia tersenyum simpul dan bilang “no rice until 10 a.m” . Sebungkus samosa akhirnya mengganjal rasa lapar saya dan saya pun tertidur di kursi dengan kaki memanjang diatas koper.
Setelah check in saya menunggu 2 jam lagi untuk penerbangan terakhir menuju Ranchi. Kota kecil diamna saya akan menghabiskan setahun kedepan. Saya mencoba menebak tentang apa yang akan saya hadapi di sana. Namun sialnya semua tentang pikiran negative tidak berhenti hinggap di pikiran saya. Saya merogoh kantong jaket saya dan memberikan selembar rupee kepada pembersih kamar mandi. Agama saya mengajarkan sedekah akan menghilangkan rasa takutmu.
Penerbangan terakhir saya hanya tertidur hingga akhirnya pesawat saya mendarat dengan mulus di bandara Birsa Munda, Ranchi. Bandara ini tidak begitu besar. Saya memberanikan diri untuk keluar dari pintu bandara dan mencoba mencari nama saya diantara kertas yang dipegang para penjemput. Mata saya tertuju pada kertas dengan tulisan Taurian World School dan nama saya diatasnya. Saya bias saja lari dan kembali ke zona nyaman saya, namun pikiran saya mengingankan hidup dengan penuh kejutan. Saya menyapa mereka yang menjemput saya. ‘Manisha’ dia memperkenalkan diri dan kami bertiga bersama supir yang hingga kini tak pernah ku kenal melaju menuju sekolah tempat magang saya.
Saya masih saja gugup. Entahlah, harus apalagi. Ketika akhirnya mereka mengantarkan saya hingga kamar, dan menunjukkan sebuah ruang besar dengan 2 tempat tidur. Saya mengagumi ruang besar itu dan kemudian meletakkan beberapa barang diatas meja dan merebahkan diri diatas kasur.
Saya kemudian kembali ke ruang kantor untuk bertemu Mrs.Chloe. Sebelum kesini, dialah yang mewawancarai saya via skype dan akhirnya menyatakan saya lulus untuk program magang ini. Saya  diajak berkenalan dengan beberapa staff oleh seorang staff yang akhirnya saya kenal dengan nama Abhijit sir. Entahlah ini aturan baku atau kebiasaan orang India. Mereka lebih senang menyebut Sir atau Mam di akhir nama seseorang. Jadi bukan Mam Nurul, tapi mereka murid-murid saya memanggil Nurul Mam.
Setelah dua hari saya menjalankan tugas saya sebagai asisten guru kelas, akhirnya saya di tetapkan menjadi guru kelas karena guru kelas sebenarnya sedang sakit. Saya begitu menikmati setiap proses dari program magang saya ini. kejutan lainnya adalah teman saya dari Rusia. Saya tidak pernah menyangka bahwa saya akan menemukan seseorang dari negara lainnya di sekolah saya. Dia datang dari organisasi yang sama, AIESEC. Namun, agustus nanti masa magangnya akan berakhir setelah setahun mengabdi. Harus kuakui bahwa semua yang kutemui disini sangat memukau dan diluar dugaan saya. Jika selama ini orang-orang mengenal India sebagai negara criminal dengan berbagai macam kasus, saat inilah saya menemukan bahwa “life is like a book, who never travel just read the first page”
Kesulitan paling besar yang saya hadapi adalah mengingat nama setiap orang saya temui dan mengerti setiap kata yang diucapkan dalam bahasa Inggris. Selain itu, saya masih biasa menghandle nya. Mungkin karena saya agak jarang menggunakan bahasa Inggris di kehidupan saya. Beruntunglah teman rusia saya, Irina membantu saya mengimprove bahasa Inggris saya. Beberapa kali dia sempat tertawa karena pronunciation saya yang cukup menggelikan.
“only few people can speak English in my country, you have to help me” saya selalu merengek tiap kali dia mengejek.
Dia adalah bagian terindah dari cerita hidup saya. Dia selalu menanyakan, “are you ok ?” atau selalu memulai percakapan dengan menanyakan “do you want to eat something ?“ setiap kali saya mengunjungi kamarnya. Kami tinggal di hostel yang berbeda dengan jarak yang tidak begitu jauh. Namun saya harus melalui sebuah lapangan rumput untuk sampai di kamarnya.
Saya tinggal bersama teman kamar saya dari India. Rajni, seorang guru UKG atau guru TK di sekolah kami. Beberapa guru memutuskan untuk tinggal di asrama sekolah karena jarak yang cukup jauh. Sekeliling sekolah saya hanya hutan dan untuk menuju ke pusat kota akan menempuh jarak selama 2 jam. Rajni sangat ramah dan penuh perhatian. Namun, saya merasa lebih nyaman bersama Irina. Mungkin, karena kami menghadapi kesulitan yang sama di kota yang jauh dari keluarga.   Dan akhirnya seorang guru baru datang dari kota yang cukup jauh di India. Augustina, yang kini berbagi ruang bersama Irina. “ I never have a roommate before, you are the first” . dia masih muda dan begitu enerjik.
Saya sering menghabiskan waktu bersama mereka. Sebab Rajni akan selalu pulang ke rumah setiap akhir pekan. Pusat kota jauh dari kesan metropolitan dan sangat kumuh dengan cuaca yang cukup panas. Oia, di sekolah saya, tidak satupun menggunakan AC kecuali mobil yang digunakan untuk mengantarkan staff berakhir pekan di pusat kota. Sering kali saya tertidur di mobil dan memanfaatkan sejuknya AC.
Augustina menjadi guru kelas 4 SD bersama saya. Saya kembali menjadi asisten guru ketika guru yang sebenarnya telah kembali pulih. Pooja mam, augustina akan menjadi guru kelas 4 SD yang terbagi dalam 2 ruangan dan saya akan menjadi asisten mereka berdua. saya membantu mereka membuat timeline dan beberapa worksheet. Saya juga memiliki jam mengajar malam untuk beberapa siswa yang tinggal di asrama. Saya menikmati tanggung jawab ini.
“I came here, not for the salary, not for the experience. I can get them all in Indonesia. But it’s about contributed to the world. After this I believe that I can be better for my country” saya menjelaskan ketika Iriana bertanya apa yang membuat saya datang ke India.
Setelah beberapa minggu di India, saya kemudian jatuh sakit dan harus mendapatkan perawatan di rumah sakit. Beruntung setelah check up darah saya menyatakan semuanya normal saya bisa kembali ke asrama sekolah. Saya hanya anemia dan dehidrasi berat. Saya kemudian memutuskan untuk tidak berpuasa di bulan penuh berkah ini. Semoga ketika kembali nanti saya bisa menggantinya. 

.......to be continued

Kamis, 17 April 2014

REBORN !!


I'M BACK !!!!

Rabu, 02 Oktober 2013

When I was in Ramma'

Saya pamit, pamit untuk ke malino. Tapi bukan pamit untuk mendaki gunung maupun camping. Saya sudah sangat yakin, tidak akan dapat ijin untuk melakukan kegiatan yang menurut orang tua saya sangat ekstrem. Saya mempersiapkan diri beberapa minggu sebelum memulai liburan ini. Sekali-kali saya ingin merasakan liburan yang berbeda. Liburan di alam beratapkan langit berbungkus tenda tanpa signal wi-fi. 

Saya mulai melatih fisik dengan jogging setiap sore di seputaran daerah kampus. Namun, tetap saja belum yakin, kapan akan memulai mendaki gunungnya. Beberapa tawaran silih berganti datang, namun tidak satupun yang bisa memastikan :'. And finally, here we are 

"Ahdan mau ke ramma' sama teman kantor ku kita berangkat jumat depan dan pulang hari minggu ?" tawaran ini sontak membuat saya kegirangan lompat kesana kemari di dalam lab dan segera mengirim sms ke atasan saya untuk minta cuti 2 hari. Sorry that i told you a lie boss :D

Saya semakin bersemangat jogging sore. Hingga tiba waktunya, Jumat 25 Oktober 2013, saya masih harus mengikuti simulasi tes TOEFL di pagi hari dan melanjutkan pekerjaan d kantor, karena tidak dapat ijin untuk 2 hari :(

Perjalanan dimulai ! Saya masih agak canggung dengan keadaan sekitar. Tidak mengenal siapapun di dalam mobil. Yang ku tahu mereka teman-teman mba Ayish. *hihihihi.  Perhentian pertama di mesjid daerah gowa. Saya merasa mual bukan kepalang. Maklum, belum terbiasa untuk duduk di dalam mobil. Saya biasanya mengendarai sepeda motor :D. Belum juga pusing saya hilang, perjalanan kembali dilanjutkan menuju malino. Kami berangkat dengan 2 mobil dan cukup lowong. Syukur, saya merasa agak baikan ketika pindah di kursi bagian depan. 

Cahaya matahari kemudian menghilang berganti dengan langit gelap dan udara dingin. 

"Sedikit lagi kita sampai" ucapan said yang mengendarai mobil membuat saya sedikit menghela nafas. 

Rasanya saya tidak sanggup lagi melewati jalanan berkelok-kelok ini. Perhentian terakhir untuk melaksanakan sholat maghrib sebelum betul-betul berhenti memarkirkan mobil dan berjalan kaki mendaki gunung. Jam telah menunjukkan pukul 7:38 malam ketika kami semua berkumpul membentuk lingkaran , berdoa dan melanjutkan perjalan dengan berjalan kaki.

"HOREEEEEE !!! SAYA AKHIRNYA MENDAKI GUNUNG !!!" saya berteriak kerasss, namun hanya dalam hati *hihihihi., 
Mendaki gunung ternyata bukan perkara mudah. Walaupun beberapa orang bilang, Ramma' hanya sebagian kecil pendakian gunung. Tapi tetap saja saya merasa ngos-ngosan dan merasa kram dimana-mana. Belum juga berjalan terlalu jauh, saya sudah menumpahkan gula yang dititipkan pada kantong sebelah tas saya. Huhuhuhu maafkaaaaaaannn :'... syukur masih tersisa bnyak.

Beberapa kali kami harus berhenti karena rasa lelah. Namun, bukan rasa lelah yang menjadi perkara saya. Saya sangat penakut dan sedikit benci dengan pikiran saya yang melayang kemana-mana. Saya tidak bisa mengontrol cerita horor di dalam benak saya. Mencoba menenangkan diri saya beberapa kali memanggil nama Ayish atau menarik tali ransel kakak yang berjalan di depan saya.
"Kak pelan-pelanki'"

Ini pertama kalinya saya mendaki gunung dan jalan dimalam hari. OH MY GOD ! this is totally nightmare and scary. Saya mencoba bercanda menghilangkan rasa takut saya dan mencairkan suasana. Pelan-pelan saya mulai mengenali mereka dari percakapan yang melintas d telinga saya. Yang jalannya paling depan namanya kak Muis, di depan saya kak Nurdin, selebihnya saya hanya mengenal adik2 perempuan yang beberapa kali menjerit karena sedikit problem.
Perjalanan ini hanya diterangi cahaya senter dan bantuan tongkat untuk menghalau ranting-ranting yang menutup jalan. Saya kemudian merasakan kram kaki saya semakin parah. Mungkin karena dingin, saya mulai merasakan kaki saya membeku. Mungkin ini hipotermia seperti yang pernah diceritakan virah. Kalo tidak salah caranya dengan menyalakan korek api di daerah yang kedinginan. Dan hasilnya saya tidak merasakan apapun, kecuali kesemutan yang sangat menyiksa untuk memaksakan kaki tetap melangkah. C'moon ! saya tidak mau membuat perjalanan ini berantakan dan akhirnya saya memaksakan kaki tetap berjalan.
Setelah berjalan sangat jauh, sampailah kami di puncak Tallung. Angin bertiup sangat kencang membuat suhu semakin dingin. Tapi, pemandangan langit bisa menghilangkan rasa lelah setelah berjalan jauh.
"HUAAAAAA ADA BANYAK BINTANG-BINTANG !!!!" I wish I could stay here. Tapi ternyata perjalanan masih harus berlanjut menuruni bukit. Perjalanan kemudian semakin ekstrem dengan tapakan yang semakin mengecil. Untungnya cerek, yang sudah beberapa kali mendaki gunung dengan sigap menolong. Beberapa kali saya terpleset dan sedikit panik dengan jalanan sempit menuju jurang. "HUAAAA I'm gonna cry this moment" 
Hingga tiba saat dimana saya betul-betul hampir menyerah.Akhirnya ransel saya harus di bawa kak nurdin karena beberapa kali tersangkut di dahan.
"SAYA MAU PULLLLLAAAA.....!!!" Tiba-tiba permohonan ini terpotong oleh permukaan datar yang dikekelilingi tenda di mana-mana. HORE ! kami sampai juga. hore, horeeee !!!! rasa mau loncat kesana kemari dan memberi selamat kepada orang-orang yang telah lebih dahulu tiba di tempat ini. Tapi ini ide gila. 

Kami kemudian menyalakan api unggun dan menghangatkan diri. Dari balik cahaya head lamp bisa terlihat kabut yang keluar dari mulut saat bernafas dan bicara. Keinginan untuk pulang kemudian berbalik 180 derajat dan ingin tinggal disini saja. Udara nya nyaman, tak perlu menyalakan AC. Begitu tenda telah siap, kami lalu menyiapkan makanan dan mulai mengatur perlengkapan. Di samping tenda kami ada sungai kecil yang mengalir dan menambah suasana alam yang begitu sejuk. Jaket saya begitu menjadi sangat dingin karena ada keringat dan udara sejuk yang keterlaluan. Saya mencoba meracik indomie goreng bersama Ayish. Entahlah apa rasanya, yang jelas memasak di keadaan gelap bukan perkara mudah. Saya mulai putus asa dengan rasa indomie goreng dengan kuah kebanyakan. 

Tapi senang juga dengan pujian yang lainnya "Enak ji dek enak ji, kalo di gunung itu enak smua ji" *hihihi ini yang membuat saya betah untuk menyiapkan makanan. Padahal baru dilihat, makanan ini sudah tidak mengundang selera.  Setelah berganti baju saya kemudian membungkus diri dengan sleeping bag dan mencoba memejamkan mata. Entah sudah pukul berapa saat saya bangun dan mendengar kedua gigi saya saling beradu karena kedinginan. Saya memeluk Ayish yang tidur di samping saya. Rasa-rasanya saya hanya berkedip ketika cahaya terang masuk menerobos tenda.
Saya tidak sanggup untuk bangun dan berwudhu. Ah sudahlah, saya harus membunuh rasa dingin ini. "Mba boleh wudhu pake tissue basah kah ?" canda saya sambil menggigil di pinggir sungai kecil disamping tenda. Akhirnya rasa dinginlah yang harus mengalah. Menunaikan sholat subuh di tengah alam dengan suhu dingin adalah pengalaman luar biasa. Kemudian saya harus kembali ke sungai dan menggosok gigi, dan tiba-tiba ada segerombolan sapi yang melintas tak jauh dari arah aliran sungai tempat saya mengambil air minum semalam. WTFUKKKK !!!! ckckckc, saya tiba-tiba berhenti dan tak mau berkumur lagi. mengambil tissue basah dan menghilangkan sisa-sisa busa odol saya. 

"Ada sumber air di sana, kalo mau minum" kak Muis kemudian mengajak mengambil air minum yang agak jauh dari tempat kami mendirikan tenda. 
Ada pipa besar yang terhubung mengeluarkan air jernih dan sejuk untuk di minum. Tidak ragu-ragu lagi saya segera meneguk air nya dan merasakan kesejukan di tenggorokan saya. YUHUIIIIII !!!!!! Sepanjang jalan saya membujuk untuk memindahkan tenda ke dekat sumber air itu. dan akhirnya kami move on ! hihihih

Hari ini sangat berbeda dengan hari-hari biasanya yang saya lalui. Tidak ada lab, tidak ada sms meeting, tidak ada signal wi-fi, tidak ada kerjaan dan tidak ada matahari yang menyengat. I wanna stay here longer ! Siang hari hanya diisi dengan candaan ringan lainnya. Mulai dari celaan hingga kelakuan yang tidak pernah terbayangkan.

"Enal ayoo mangkal" Sambil mengangkat sarung setelah sholat kak Arman sukses membuat pipi saya sakit karena tertawa. "Ya Allah, russsaknya ini kodong kehidupannya kak Endang" sapaan sayang kak enal dari kak arman. Lain lagi kalo cerek bilang "Oi kak Armang ayo makang ikang sardeng tangpa tulan" candaan khas kelebihan huruf G yang sukses membuat saya hampir mengeluarkan air mata tidak sanggup menahan ketawa. 

"Kau itu adi nd pernah sa liat sholat"
"Sholat itu urusan hati cess, masa' mau ku lapor setiap sholat ka"
"Jangan2 kalo duduk2 mko terus dalam hati mu ko pikirkan sholat , sudah beresmi sholatmu, sudah itu dijama' lagi mulai dari subuh smpe isya satu kali" hhihihhhihi 

Candaan ini membuat saya seperti menemukan keluarga baru. Membuat saya sedikit takut menghadapi hari esok. Takut kalau saya tidak bisa lagi tertawa seperti saat ini. Takut kalau ini hanya akan menjadi memori.  Dan sangat takut jika memori ini menyebabkan kerinduan yang hebat suatu hari. huaaaaaa !!! I'm gonnaaaaaa miss it so much damn !

Duduk melingkar dan mulai memainkan games sambung lagu. Entah jaman apa yang telah di lalui kak enal. Tidak sepotong pun bait lagu melekat d ingatannya. ckckckc. Hanya beberapa bait yang berhasil di sambung kak Gandhi dan Marwa yang bersuara jernih. Uni yang sedari tadi seharusnya menyambung potongan lagu dari Ulva masih saja senyum-senyum tidak jelas dari kegelapan. Rini juga tidak menyambung lagu apapun. Nila apalagi, hanya tersenyum manis ketika terkena cahaya senter. Alhasil games ini dianggap gagal :D 

Malam ini kemudian ditutup dengan breafing menyambut persiapan pulang.
"Siapa yang takut ketinggian ?" pertanyaan ini kemudian meruntuhkan rasa senang ku. Saya benci ketinggian, dan harus menghadapi kenyataan kalau pulang harus melewati tebing.

Masuk ke tenda dan bersiap untuk mendaki pulang. Pikiran horror pun kembali menghampiri. Benci dengan jalur pulang yang akan terlihat terjal dengan tebing di pinggirannya. Saya menangis ! OH GOD ! Pikiran semacam ini memang seringkali menghampiri saya sebelum tidur. Mulai takut dengan semuanya. Saya menangis sesenggukan. Dan akhirnya di tutup dengan dengkuran yang mungkin saja mengganggu Helki yang terlelap disamping saya. Maaaaffkkkeeeeuuunnn mba Ayish :' saya tidak suka dengan jurang2 dari ketinggian. 

Belum juga matahari menampakkan diri, saya sudah berada di pancuran sumber air untuk mengambil wudhu. Ketakutan dengan ketinggian masih hinggap di pikiran saya. C'moon !!! I wanna go home !  Selesai sarapan kami berfoto bersama dan berdoa dipimpipin kak Uwa sebelum memulai pejalanan pulang. Ketakutan itu menjadi lebih besar tatkala gunung yang akan di daki tepat berada di hadapan saya. Saya bisa merakan kedua lutut saya bergetar. Huaaaaaaaaaaaaaaa...., I'm crying ! saya menggigit bibir mencoba menenangkan diri. Untungnya kak nurdin dengan sigap mengatasi ketakutan ini. Saya bisa merasakan langkah kaki yang berada di pinggiran jurang. Saya menjadi lebih cengeng ! 

Beberapa kali berhenti dan tibalah kami pada hutan pinus yang menandakan jarak parkiran mobil tidak jauh lagi. horeeeeee !! I couldn't believe it that I have been there ! Saya kemudian berlari disamping kak Akram dan berteriaaak "Horeeeeeee dari mka Ramma'" teriakan ini kemudian berhenti ketika saya menatap layar Hp dengan nama ayah yang terpampang disana. Perasaan kemudian bercampur aduk. Belum lagi lecet kaki yang di sebabkan sendal yang kurang nyaman Tapi, tidak apalah pengalaman ini layak untuk diperjuangkan :D Sekali lagi terimakasssiiihh untuk semuanyaaaaaaa :)




Makassar, 2 Oktober 2013
dari ruang kantor yang begitu penat 




Selasa, 19 Februari 2013

MY assigment today :D about my Holiday

I opened my picture files on my laptop last night. I tried to remember about my holiday. I love travelling. And every holiday, I always visit some places. Actually, all of my holiday has the interesting story. But today, I prefer to talk about my recent holiday. The story was began when my friends came to Makassar. They are Devi and Barnash. Both of them had long vacation and wsant to spend it in Makassar. The first time I met Devi in English Debat competition. She was delegation from Yogyakarta. And this time, she came for holiday. I’m very happy to see her again. I had planned our destination. I made the schedule and decided the place. We just had 4 days for holiday.
The 1st place we visited is Bantingmurung. We went to Bantingmurung by public transportation. Unfortunately the weather was very bad. It was not raining but the waterfall was not good to swim. I decided to enter the cave. That was dark and slippery. We took some pictures, but it’s not really clear.  We went home at 3 o’clock and took a rest for a moment. We continued our journey to Toraja. We really excited. We enjoyed views in some places. We went to Londa, Lemo, Sangalla, and Ketekesu. We didn’t forget to see Rambu Solo, a death ceremony. That was so scary. We didn’t spend a night in Toraja. We went back to Makassar at night.
We arrived in Makassar early morning. Then we waited a car to go to Bulukumba. We wanted to enjoy Bira beach.  We spent a night there. That was really awesome when we can enjoy the sun rises in Bira beach. We also enjoy some grilled fishes. We went back to makassar at 11 a.m. We continued to enjoy Losari beach. There are so many new things. It’s getting better right now. But, some trash everywhere. This was the last journey of my holiday. Devi and Barnash went back to Jakarta. And I had to face my routine activities again. Welcome to real world. Triple K in Bahasa. They are Kerja Kursus and Kuliah. Hectic days every day, but I love it !

Sabtu, 09 Februari 2013

I'm AIESECer.

Minggu ini saya sibuk menjadi bagian keluarga besar dari AIESEC. Sebuah organisasi yang menjadi wadah untuk pemuda yang ingin mencari pengalaman di negara lain. Ada beberapa negara yang dapat kita pilih. Jangka waktu untuk melakukan kegiatan di luar negeri ini juga cukup singkat, minimal 6 minggu. Semua kelebihan belajar di luar negri dapat kita peroleh dengan mudah dengan bergabung d AIESEC. Kekurangannya adalah ada beberapa biaya yang harus kita tanggung untuk melakukan program ini. Tapi tenang saja, kita dapat menjalin kerja sama dengan beberapa perusahan dengan mengajukan proposal bantuan dana :)

Sabtu kemarin, 9 Februari 2013, saya dipercayakan untuk mengisi acara info session sebagai master ceremony. Kebayang juga gugupnya musti tampil tanpa banyak persiapan karena terlalu sibuk dengan kegiatan lainnya. I'm sorry !
Cengegesan sebelum naik panggung ~

Back about AIESEC info session. Salah satu teman dekat saya ternyata turut mengisi acara. Sebenarnya kami sempat lost contact ketika memasuki jenjang SMA. Kami melanjutkan di sekolah yang berbeda dan kemudia teman saya kuliah di luar negri dan tetap saja lost contact hingga akhirnya bertemu d acara info session ini. Dia memberikan beberapa alasan mengapa harus keluar negri untuk belajar. Walaupun dia sendiri sangat tertarik untuk tetap tinggal di Indonesia melanjutkan kuliah, namun takdir berkata lain. Anisa Pratiwi, namanya, melanjutkan kuliah di negri Malaysia. Alasannya simple, dia masih menginginkan belajar di negara lain yang memiliki atmosfir seperti Indonesia. Dengan hidup jauh dari orang tua nya, dia belajar banyak tentang kemadirian dan lebih bertanggung jawab. Dia banyak berubah, seingatku dulu dia agak canggung jika diminta bicara di depan orang banyak, namun kini dengan penuh percaya diri Anisa membagikan pengalaman belajar nya di kampung orang :) Thanks girl !

Pembicara lainnya  datang dari Exchange participant. Peserta yang telah mengerjakan project sosial di negara Thailand setelah bergabung dengan AIESEC. Namanya Kak Faruq. Pengalamannya sangat menarik. Apalagi tentang cerita cinta lokasi yang dialaminya. Actually he didn't tell us about that. Tapi bisik-bisik serta teriakan cie dari kursi panitia info session menambah meriah suasana sharing pengalaman dari kak Faruq. Hehehehe, that was an awesome birthday video kak ! menampilkan beberapa ucapan selamat dari teman-temannya dari beberapa negara yang berbeda. Ada yang menarik dari beberapa kegiatan yang telah dilakukannya di Thailand. bertemu orang-orang baru, memiliki pengalaman baru dan tentunya tambatan hati yang baru,. that was great :D

Menurut saya, ada banyak alasan mengapa kita harus melakukan program yang ditawarkan AIESEC ini. Yang paling utama adalah seleksi yang tidak begitu ketat, asal ada kemauan dan mampu bercakap dalam bahasa Internasional, kamu dapat merasakan sensasi persaingan global. Bertemu dengan orang-orang dari belahan dunia lainnya. Dan tak ketinggalan sensasi peduli sesama yang dituangkan dalam beberapa project sosial. Saya juga berencana akan terlibat dalam program serupa. Tapi ini bukan waktu yang tepat untuk tidak fokus terhadap tugas skripsi.

sampai  disini dulu, tepat pukul 8.20 minggu pagi, saat saya belum mandi pagi :D Maafkan kalo kemarin saya nge-MC ny jelek~

Rabu, 30 Januari 2013

A little bit of heaven with 4 Ksatria

4 ksatria dalam bayang kebahagian

Hari ini saya bolos les dulu :D selain masih belum fit, saya juga masih ingin menikmati euforia dr liburan selama 4 hari. Mumpung masih ingat, saya mau berbagi informasi mengenai perjalan liburan saya bersama 3 ksatria lainnya. Kami berempat mahasiswa tangguh dengan perjalanan tanpa batas ingin menikmati dunia luar. Sejenak istirahat dari rutinitas padat yang begitu membelenggu (*ehem). Dimulai dari tiket promo Air Asia yang mengepakkan sayap murahnya menuju ke pulau Celebes. Mba Devi kemudian mengajak liburan bersama keliling kota Makassar. Tugas yang harus selesai 2 minggu kedepan akhirnya saya rampungkan selama seminggu kerja lembur. Lumayan, ajakan liburnya cukup menggiurkan. Saya kemudian mencoba mengatur jadwal dengan menyesuaikan kedatangan mba Devi dan seorang temannya Kak Barnash. 2 ksatria ini rupanya ingin sejenak beristirahat dari hiruk pikuk kota Jakarta. 

Cuaca di Makassar tidak sangat tidak mendukung. Seminggu sebelum kedatangan mereka, Sulawesi terjadi banjir dimana-mana. beberapa jalur yang menjadi destinasi kami terputus akibat sungai yang meluber. Tapi saya keep in touch dengan mba Devi. Mengabarkan rencana perjalanan kami. Walaupun hujan tak pernah berhenti namun derasnya mulai berkurang. 

The 1st DAY 25 Januari 2013
Tepat pukul 00:55 dini hari ketika pesawat Air Asia mendarat di kota Makassar. Saya bersama Tiar telah menunggu selama 10 menit ketika tulisan di layar berganti menjadi landed dan berkedip-kedip warna merah. Saya kemudian celingak celinguk mencari wajah yang saya temui 2 tahun kemarin dalam lomba debat bahasa Inggris. Dan akhirnya ketemu juga !. Berpelukan dan rasa kangen itu mulai hilang berganti rasa tak sabar menyambut datangnya pagi. Dalam perjalanan pulang, 3 ksatria dan seorang pangeran mampir dulu di Songkolo Begadang Pannara'. Menurut saya ini salah satu makanan khas Makassar yang susah di temui di tempat lain. Cukup 5 ribu perut sudah dimanjakan dengan rasa ikan kering yang garing, sedikit manis dan campuran kelapa yang terasa khas. tempat ini buka 24 jam. 

Saya lalu mempersilahkan 2 ksatria untuk beristirahat sebelum memulai petualangan. Tepat pukul 03:00 dini hari lampu padam dan entah kapan akan menyala. Sepertinya memberi sinyal untuk beristirahat dan bergabung dengan ksatria lainnya di alam mimpi. Rupanya mba Devi juga belum tidur. Dan mulai beristirahat saat lampu padam. 

Pukul 09:00, disaat matahari mulai terik kami melangkahkan kaki mencari angkutan umum menuju Bantingmurung. Saya sebenarnya kurang ahli dalam menentukan jalur angkutan umum (read: pete2). Modal tanya kiri kanan, saya dan 2 ksatria lainnya akhirnya tiba setelah berganti 4 kali angkutan. Jalur Antang lalu Daya menuju pete2 Maros dan terakhir pete2 Bantingmurung dengan total biaya untuk pete2 adalah 17 ribu. Kami kemudian turun tepat di depan gerbang masuk dan membayar 15 ribu. Untungnya kami wisatawan domestik, wisatawan dari luar harus merogoh 50 ribu untuk menebus gerbang menuju air terjun Bantingmurung ini. Sayangnya karena hujan baru berhenti hari ini, aliran air terjun menjadi sangat deras. Padahal berangkat dari rumah, kami telah menyiapkan pakaian ganti. Selain deras airnya juga sagat keruh. Oia, kami bertemu dengan 1 ksatria lagi. Namanya "Tadhi", kalo menyebutkan namanya seperti sedang menyebutkan sesuatu yang telah berlalu, bisa jadi ambigu jadinya. heheheh. Oke, sekarang kami telah lengkap menjadi 4 ksatria. Ksatria Devi, ksatria Barnash, Ksatria Tadhi, dan ksatria Jessica, huahahahahaha. Kami berempat lalu menyusuri gua di Bantingmurung. Karena lupa bawa senter, kami akhirnya menyewa dengan harga 10 ribu untuk 1 senter. Menjelang waktu sholat dhuhur, keempat ksatria berjalan keluar. Namun saya dan mba Devi terhenti untuk bersih2 di pinggir aliran air terjun dari bekas lumpur di dalam gua gelap.
Keempat Ksatria (saya, mba Devi, Kak Barnash, Taadhi) dengan latar belakang pegunungan Bantingmurung

Pukul 03:00 sore 4 ksatria akhirnya meninggalkan Bantingmurung. Karena tidak ada angkutan yang langsung keluar dari Bantingmurung, akhirnya kami berjalan sambil ngesot :D. Beristirahat sejenak di rumah saya sebelum menuju ke tempat pemberangkatan berikutnya. Tepat pukul 8 p.m kami meninggalkan rumah menuju tempat pemberangkatan bis menuju kota Toraja. Harga tiket 100 ribu per orang. Dan beruntungnya karena bis dengan harga fasilitas 100 ribu tidak tersedia, akhirnya dengan senang hati kami bertiga menikmati fasilitas bis dengan harga 120 ribu per orang tanpa ada tambahan pembayaran :D duuuhhhh suenangnya. Sayangnya ksatria Tadhi tidak bisa ikut bersama kami. Perjalan pun dimulai.

The 2nd DAY 26 Januari 2013
Bus berhenti di pusat pertokoan Rantepao kota Toraja ketika jam menunjukkan pukul 6 a.m. Masih terlalu pagi untuk memulai perjalanan keliling kota yang terkenal dengan suasana funeral-nya. Ksatria Barnash terserang demam. Gawat !! tapi dengan segelas teh hangat, suhu tubuhnya mulai kembali normal. Saya kemudian mencoba menghubungi junior saya yang sedang berada d Toraja. Tidak lama setelah sms terkirim, muncullah Egi tampak dari kejauhan sedang mengayuh sepedanya menuju ke arah kami bertiga.  Kuajak dia untuk sarapan bersama kami. Sarapan bubur ayam seharga 5 ribu cukup untuk mengganjal perut kami. Kami lalu melanjutkan perjalanan dengan menggunakan ojek dan motor rental yang telah kami sewa untuk perjalanan kami 1 hari. Ojek kami sewa 100 ribu untuk kak Barnash, berhubung ksatria ini kurang enak badan, sedangkan mba Devi dan saya menggunakan motor rental yang kami bayar 60 ribu untuk keliling tempat wisata.

The 1st destination. Menuju Ketekesu yang merupakan pusat tempat perayaan rambusolo atau acara kematian. Di tempat ini berdiri banyak pemondokan untuk menjamu tamu selagi acara dilangsungkan. Pegunungan yang digunakan sebagai tempat pemakaman terletak dibelakang jajaran rumah adat Toraja. Untuk masuk tempat wisata ini kami membayar 10 ribu per orang


Ketekesu

The 2nd destination. Perjalanan kami lanjutkan menuju ke tempat wisata di daerah Sangalla. Kami mengunjungi sebuah pohon yang dijadikan untuk pemakaman bayi. Biaya karcis masuk sebesar 10 ribu rupiah per orang dan kami disuguhi pemandangan sebuah pohon yang telah di lubangi dan kemudian ditutup dengan kayu yang telah dirangkai. Anehnya walaupun di dalam terdapat mayat, tetapi tidak ada bau aneh seperti perkiraan saya. Saya dan ksatria Barnash kemudian memilih untuk beristirahat sejenak di bawah lumbung yang berbentuk rumah adat Tongkonan. 30 menit ternyata sukses membuat rasa lelah hilang.

Baby grave di daerah Sangalla



The 3rd destination. Kami menuju ke Lemo untuk melihat pegunungan yang dijadikan makam bagi orang Toraja. Dengan harga tiket masuk 10 ribu per orang kami dapat menikmati pemandangan serupa dengan ketekesu. Di depan pegunungan masih terlihat 2 rumah-rumah kecil berbentuk tonggkonan yang digunakan untuk mengangkut jenazah dari rumah ke pegunungan. Lalu dengan berjalan kaki ke arah lainnya dapat ditemukan pembuat patung untuk orang meninggal yang dapat dipesan sesuai dengan kemiripan wajahnya. Harganya mulai 18 jutaan.



3 ksatria dengan latar belakang pemakaman di daerah lemo

The 4th destination, dari wisata Lemo, 3 ksatria lalu melanjutkan perjalanan ke Londa. Kami menyewa sebuah lentera dan guide 35 ribu dan tiket masuk 10 ribu per orang.  Rasanya kurang afdol ke Toraja kalo tidak mampir ke Londa. Di dalam gua terdapat 2 kerangka kepala sepasang kekasih yang hubungannya tidak direstui dan nekat bunuh diri. Londa sama halnya dengan Lemo, yang merupakan perkuburan di dalam gua2 diatas gunung. Di Londa kami bertiga nekat menerobos lorong gua yang begitu sempit. Alhasil kami merasakan pengapnya berada di gua sempit dan harus merangkak lebih dari 25 meter. Keluar dari gua ksatria Barnash meminta waktu beristirahat dan berbaring di tempat duduk panjang mengistirahatkan diri. Demamnya sudah hilang. Sedangkan ksatria Devi, masih asyik foto-foto di sekitar Londa. Saya sendiri, masih tepar, mengingat telah menerobos gua sempit sambil merangkak.

3 ksatria di dalam gua Londa
The 4th destination Terus berkeliling kota Toraja rupanya menguras tenaga. Kami lalu menuju kerumah Egy, yang ternyata merupakan restauran yang terletak di tengah kota rantepao depan apotek Marannu. Kami bersyukur, makan siang ini disponsori oleh dia, jadi kami makan gratis. Alhamdulillah. Untuk muslim, rumah makan ini halal 100%. Menunya juga enak, khas buatan rumah. Membuat setiap orang yang merasakannya menjadi rindu pulang ke rumah. hehehehehhe. Stelah makan kami beristirahat di rumahnya yang mungil terpisah dari rumah utama tempat dia dan keluarganya tinggal. Jadi Egy memiliki banyak rumah di Rantepao. Kemungkinan dia keturunan ke 5 juragan tanah di Rantepao, xiixixixix. 
Foto Egy menyiapakan makan siang gratis, *paparazzi version

The 5th destination Setelah beristirahat kami lalu melanjutkan perjalanan menuju tempat dilakukannya acara rambusolo. Kami menggunakan sitor (taksi motor) yang biasa disebut bentor (becak motor). Sayangnya karena terlambat datang, kami hanya mendapat penjelasan dari anak almarhumah. Beliau menjelaskan secara detil tentang tata cara pelaksanaan pesta kematian.



Bersama anak almarhumah, berpose di samping batang yang ditancapkan sebagai tanda pemotongan 12 tedong (kerbau)




Destinasi kota Toraja pun tidak berhenti disini. Setelah masuk waktu maghrib, sembari menunggu bus yang akan mengantarkan 3 ksatria menuju kota Makassar, ditemani kak Nila dan Kak Okta kami mengelilingi pusat pertokoan Rantepao untuk mencari makan malam dan belanja sedikit ole2. Kami lalu beristirahat di perwakilan bus dan berangkat pukul setengah 9. Bus nya tidak senyaman bus yang memberangkatkan kami ke Toraja. Harganya 100 ribu dan sesuai dengan fasilitasnya. Namun karena lelah, saya tertidur sepanjang jalan.

The 3rd DAY 27 Januari 2013
Saya tidak menyadari ketika bus telah memasuki gerbang kota Makassar. Beruntung ksatria Barnash membangunkan saya. Karena tiba terlalu subuh, maka saya lalu mengambil taksi untuk pulang ke rumah dulu sebelum melanjutkan perjalanan menuju Kota Bulukumba untuk menikmati pantai Bira. Ongkos taksi 20 ribu sebenarnya tidak masuk hitungan saya, namun karena suasana yang masih gelap tidak memungkinkan kami menunggu ksatria Taadhi di depan Mtos seperti rencana awalnya. Beristirahat sejenak, lalu kami berangkat ke terminal Malengkeri dengan menggunakan 2 kali ganti angkutan umum. Setiap angkutan membutuhkan ongkos 3-4 ribu per orang. Sesampainya di Malengkeri, kami telah bertemu dengan ksatria Taadhi yang terlebih dahulu telah melakukan negosiasi dengan angkutan menuju Bira tanpa transit di terminal Bulukumba. Dengan biaya 50 ribu kami berempat duduk berdesak-desakan di barisan paling belakang dalam mobil Innova.

Tetap senyum walau tidak memungkinkan untuk koprol :D
 Menempuh perjalanan selama 5 jam menuju pantai Bira, kami mampir sejenak di Kota Jene'ponto untuk santap siang. Bakso seharga 10 ribu menjadi pilihan saya. Butuh yang berkuah dan terasa hangat, sepertinya saya masuk angin. Kami menginjakkan kaki di Pantai Bira ketika jam telah menunjukkan jam 3. Kami menjatuhkan pilihan pada penginapan Riswan untuk menghabiskan semalam di kawasan Bira. Dengan merogoh kocek 100 ribu perkamar, kami dapat memiliki 2 kamar yang dihuni masing-masing 2 ksatria. Tentunya saya sekamar dengan ksatria Devi. Setelah menyantap bekal yang kami bawa dari Makassar, serantang Nasi dan lauk, kami lalu menuju pantai dan berenang sesuka hati hingga menjelang maghrib. Tidak banyak berubah dari kawasan pantai Bira. Tetap terlihat anggun dengan hamparan pasir putih dan laut jernih yang terbentang luas. Kami menghabiskan waktu dengan berenang hingga maghrib menyapa. Sayangnya tidak ada sunset hari ini. Awan menutup matahari yang akan tenggelam menuju belahan dunia lainnya. Tapi kami, keempat ksatria tetap bersyukur hari ini tak ada hujan. Malam harinya kami habiskan dengan dinner di pinggir laut. Sisa bekal dan pop mie seharga 6 ribu rupiah cukup mengenyangkan. Kami juga membeli sebotol air mineral besar seharga 5 ribu. Lalu melalui malam di kamar masing-masing. Bukan wanita namanya jika tak ada sesi curhat-curhatan. Pertanyaan yang meluncur dari ksatria Devi adalah, kapan saya merasa sedih ?, hahahahahha. Tak perlu dibahas sebenarnya. Mencoba melupakan hal yang tidak penting dengan berhenti membahasnya adalah pilihan yang tepat :)

The 4th DAY 28 Januari 2013

Terbangun dari tidur yang lelap, saya lalu mencoba ke pinggir pantai untuk menghampiri nelayan yang baru saja pulang dari menangkap ikan. Saya bermaksud membeli ikan fresh hasil tangkapannya. Sayangnya hari ini nelayan bersandar di pelabuhan yang menurut saya cukup jauh untuk ditempuh dengan jalan kaki. Ibu pemilik rumah kemudian menawarkan kami ikan hasil tangkapan pak Riswan kemarin. Masih fresh dan terlihat lezat untuk disantap. Kami mengumpulkan uang 80 ribu untuk 2 ekor ikan, sebakul nasi dan campuran sambel buatan mba Fitri. Dia seorang wanita yang numpang di rumah pak Riswan. Sembari menunggu ikan dibakar, kami berjalan menyusuri pantai. Kami berjalan cukup jauh dan kembali ketika perut telah keroncongan. Makanan juga telah sia disantap. Mmm yummiii... Setelah makan kami berenang sejenak, menikmati air laut sebelum beranjak pulang meninggalkan Pantai Bira.
4 Ksatria menikmati pantai Bira

Pukul 10 pagi kami meninggalkan penginapan menuju Kota Makassar. Ongkos mobil tetap sama, 50 ribu. Tapi kali ini kami duduk agak lowong karena bisa memilih barisan tengah dan belakang. Berhubung penumpangnya tidak mencapai batas maksimal seperti mobil pertama. Duh senangnya. Sesampainya di terminal Malengkeri kota Makassar, kami lalu mengambil angkutan umum untuk menuju jalan Gunung bawakaraeng. Ongkosnya masih tetap 3 ribu per orang. Andre, seorang pangeran yang juga teman dari ksatria Taadhi telah siap mengantar kami berkeliling kota Makassar menggunakan mobil sedannya. Kami lalu menuju coto Nusantara, pantai Akkarena, sholat di mesjid terapung, berkeliling pantai losari dan menuju toko Ujung di jalan sumbo opu untuk beli ole-ole. Perjalan terakhir menuju kerumah saya untuk final packing sebelum menuju ke kota Jakarta. Ksatria Taadhi dan Pangeran Andre harus pulang terlebih dahulu, jadi kami berpisah di tugu adipura setelah packing dirumah saya. Perjalanan lalu kami lanjutkan dengan pete-pete Daya menuju bandara. Beruntung karena bapaknya bisa diajak negosiasi dan mengantarkan kami hingga gerbang Bandara dengan ongkos 4 ribu per orang. 2 ksatria lalu melanjutkan perjalanan menuju gerbang keberangkatan dengan bus gratis yang standby setiap 25 menit ke dalam bandara. Hampir saja kami terjebak dengan taksi seharga 40 ribu. hehehehehe.

Taman bermain Akkarena bersama pangeran Andre

Mesjid Amirul Mukminin di daerah pantai Losari

LAST but NOT LEAST Ada banyak tempat yang telah kita kunjungi di Sulawesi Selatan. Ada banyak cerita yang kita ciptakan di kehidupan masing-masing. Terimakasih telah menjadi bagian dari liburan berharga kali ini.
 twitter para ksatria
mention us here : @icha_ahdan @taadhi @barnash_donks @cheesemozarella
 Miss u and See U soon !!