Do the best and let God do the rest :)

Senin, 27 Oktober 2014

DANYAWAD AIESEC!!!

Melangkahkan kaki dengan rasa sedih saya menuju ke pesawat yang akan mengantarkan saya ke India. Tempat dimana saya akan belajar banyak hal dan memulai hidup mandiri.

Saya masih ingat waktu itu 15 Juni 2014. Walau bingung dan takut akan kesasar saya harus mulai belajar hidup di tempat lain.

Saya, 24 tahun, hidup di dunia tak pernah tinggal di tempat baru dimana saya tidak mengenal seorang pun disana. Setiap kali saya akan merantau, ada2 saja kerabat yang datang menjemput dan mengurusi segala keperluan saya. Saya tinggal datang dan mengeluh jika tak sesuau harapan. Atau kadang malah langsung pulang karena jarak yang tidak terlalu jauh. Saya selalu bisa mengatasi masalah dengan komunikasi.

Tapi, kali ini jauh berbeda dengan kehidupan saya.
"When did the last time, you do something for the first time?"
It was on 17 June 2014, when my flight drop me in Calcutta airport and I have to wait for the next flight alone in the airport. The first time, I travel alone to abroad.

Saya harus menghandle semuanya sendirian. Allah selalu bersama saya tentunya. Doa orang tua membuat saya mengatasi rasa gugup dengan mudah.

"Excuse me, should I take my laguagge when I reach Calcutta? I will have my next flight in the next 10 hours with the same company"

"I will manage it for you madam. And you will take it and move to domestic place in Calcutta for your next flight"

Kira2 begitu peracakapan saya di counter check in. Di belakang saya berdiri Hamad, teman saya yang memastikan saya tidak melakukan sebuah kesalahan. Mungkin dia juga tahu kalo ini pertama kali nya saya trip seorang diri ke tempat baru.

Setelah itu saya harus sendiri melakukan semuanya sendiri. Mulai dari menemukan barang di airport, menunggu 10 jam,melanjutkan penerbangan selanjutnya dan lain-lain. Mungkin ini hal yang biasa saja menurut sebagian orang. Tapi buat saya, yang tak pernah travel keluar negri sendirian, ini hal yang luar biasa. Alhamdulillah.

Setelah itu, tiba di India, saya menghadapi lebih banyak lagi hal yang baru.

Selain saya harus mengatur pola hidup saya, saya juga harus membantu 2 orang guru di ruang kelas berbeda. Hal ini tentunya membantu saya mendapatkan pengalaman tentang management.

Saya harus menemukan cara kreatif untuk mengajar. Saya di percaya menjadi asisten guru untuk mata pelajaran, matematika, bahasa Inggris dan sains. Saya tentunya belajar tentang cara komunikasi. Bagaimana saya harus menyampaikan pesan kepada murid dan tentunya rekan kerja saya agar ide yang tercipta dapat menjadi sebuah tindakan real. Atau ketika saya membutuhkan bantuan dari sekolah. Saya tidak mengenal seorang pun di tempat baru saya.

Dan tentunya, saya meningkatkan kemampuan bahasa Inggris saya. Saya tidak menemukan seorang pun yang mampu berbahasa Indonesia disini. Kecuali, pada saat saya mengunjungi kedutaan selama 1 jam. Akhirnya setelah lebih dari 4 bulan. Saya bertemu orang Indonesia dan bisa berbahasa Indonesia lagi. Sayangnya hanya sejam saja. Mungkin karena semuanya sibuk, maka tak ada satupun yang avalaible untuk jalan2 sekeliling Delhi.

Saya belajar menghandle keuangan. Hidup jauh dari orang tua, membuat saya harus tau membeli barang yang saya butuhkan dan menghemat pengeluaran. Saya harus tau membedakan barang yang saya inginkan dan saya butuhkan. Terlebih disaat sekolah saya sedang libur dan saya harus travel ke tempat lain. Saya belajar hidup layaknya warga lokal. Ini salah satu cara saya menjadi Global citizen. Disaat saya belajar menemukan tempat tujuan dengan transportasi lokal, penginapan murah serta mengenal kebudayaan dengan tinggal gratis dirumah penduduk lokal. Dulu masih gugup sekarang sudah bisa jadi guide untuk daerah Delhi.

Over all, saya belajar menjaga diri saya. Dari makanan berbahaya hingga manusia berbahaya.
Saya mendobrak zona nyaman saya dan memperluasnya. Tidak ada lagi rasa gugup untuk travel dan bekerja di bersama orang-orang baru.
Selain membantu saya dalam kehidupan personal, pengalaman ini juga memberi pelajaran ttg kehidupan profesional.

THANK YOU AIESEC!!!

Selasa, 09 September 2014

Alasan (Dulu) Saya Menolak Menjadi AIESEC-er

Sebelum bergabung AIESEC, saya punya berbagai macam alasan untuk menolak bergabung.

1.       AIESEC, menyita waktu luang saya di masa muda. Dan kemudian saya berfikir ketika masa muda saya habiskan untuk hal kenikmatan sesaat, bagaimana saya menikmati masa tua saya. Saya akhirnya menemukan banyak kebahagiaan di AIESEC. Bersama teman-teman dari negara berbeda, saya menemukan banyak cara untuk menikmati masa muda dan berinvestasi untuk masa tua.

2.       AIESEC berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris yang membuat saya sakit kepala setiap kali ingin mengungapkan sesuatu. Dan kemudian saya menyadari bahwa ‘sampai kapan saya membatasi diri saya hanya karena persoalan bahasa’. ‘sampai kapan saya tidak mau berbahasa Inggris’. AIESEC seperti tempat kursus gratis buat saya. Saya bisa belajar bahasa Inggris dan praktek langsung beberapa native speaker yang ikut berpartisipasi dalam project AIESEC.

3.       Pertukaran pelajar yang dilakukan AIESEC menggunakan biaya sendiri. Dan setelah 3 bulan saya terlibat pada project mengajar di India, saya menyadari bahwa biaya yang saya keluarkan tidak sebanding dengan pengalaman yang saya dapatkan. Terus terang saya menghabiskan biaya sekitar 8 juta untuk pengurusan visa dan tiket pesawat. Namun saya tidak yakin ada perusahaan yang mau dibayar 8 juta untuk menyediakan lingkungan kerja berbahasa Inggris dengan 5 orang interns, menanggung tempat tinggal dan makanan sehari hari selama 11 bulan, memberikan saya gaji, serta memberikan pengalaman untuk mengenal negara lain secara langsung.

4.       Bekerja dengan AIESEC menghabiskan kuota Internet saya. Hingga saya sadari bahwa sesungguhnya menggunakan kuota internet dalam AIESEC jauh lebih penting dan berharga daripada eksis di social media. Kini saya merasa lebih akrab dengan email, skype dan beberapa aplikasi yang sering saya gunakan dalam bekerja di AIESEC. 

5.       Saya sibuk dengan tugas akhir saya sebagai mahasiswa akhir. Dan pada akhirnya AIESEC lah yang menjemput impian saya setelah lulus kuliah. Di saat seharusnya saya memikirkan perusahaan mana yang akan menerima saya bekerja, AIESEC memberikan jawaban untuk melanjutkan jenjang setelah kuliah. Saya tidak banyak menghabiskan waktu memikirkan harus kemana saya setelah kuliah.



Disaat saya memiliki seratus alasan untuk tidak bergabung dengan AIESEC, saya selalu mempunyai seribu alasan untuk menjadi bagian dari organisasi Internasional ini. selain berkontribusi untuk dunia, saya  berinvestasi untuk diri saya. I am an AIESECer, what about you.

Minggu, 07 September 2014

India Punya Cerita!

Berikut ini beberapa fakta menarik yang saya temui selama  magang di India

1.       Pemutaran film di bioskop akan dibagi menjadi 2 part, setelah part 1 selesai diputar, maka akan ada break 20 menit sebelum part 2 dimulai. Hal ini memungkinkan kamu untuk ke toilet atau melakukan apa saja tanpa kehilangan sedikitpun bagian dari film.Yuhuuuiii

2.       Setiap anak yang akan berangkat kesekolah akan dijemput oleh bus sekolah. Jadi tidak ada cerita saling pamer kendaraan, terlambat kesekolah ataupun macet di pagi hari.

3.       Di sekolah saya, kegiatan yang paling menarik adalah READING CHALLENGE COMPETITION, jadi setiap murid ditantang untuk menyelesaikan 6 buku dalam 6 minggu sesuai kategori kelas mereka. Budaya baca sangat penting bagi mereka. Setiap pemenang akan mendapatkan sertifikat dan medali.

4.       Di Ranchi, tempat saya, 10 tahun yang lalu merupakan hutan, namun berubah dengan sangat cepat menjelma menjadi kota. Namun, masih perlu ditata lebih baik. Kamu akan mudah menemui sapi, babi, dan berbagai macam hewan dijalan raya. Kamu juga akan mudah menemui orang buang air kecil di pinggir jalan. Hahahahah.

5.       Ada beberapa kata yang persis dengan kata yang digunakan di Indonesia. Misalnya, sabun, maaf, kursi, padi dan masih banyak lainnya.

6.       Mesin ATM disini pada umumnya hanya perlu menempelkan kartu di mesin dan memasukkan kode pin. Jadi kasus kartu tertelan di mesin ATM hampir tidak pernah terjadi.


Tunggu fakta-fakta menarik lainnya. Keep in touch!

Rabu, 13 Agustus 2014

Preparation for Exchange in India



Important info for AIESECER who will go to India

Ini mungkin agak terlambat untuk menyebarkan informasi ini. Namun info ini akan sangat membantu kamu jika kamu berminat untuk mengambil project di India. India merupakan salah satu negara dengan berbagai macam project AIESEC. Sayangnya image yang tertanam di masyarakat Indonesia seringkali menganggap remeh India sehingga enggan mengambil project di India.

As a youth Ambassador you have to think

Ini bukan jalan-jalan, jadi bukan tempat yang menarik yang perlu kamu cari. Melainkan tempat yang menawarkan project yang bisa menggali potensi mu.

Ok, first kumpulkan sebanyak-banyaknya informasi mengenai tempat kamu akan melakukan project. India merupakan negara yang sangat luas dengan berbagai macam culture dan musim tergantung dari tempat kamu.

Sebulan sebelum kamu berangkat siapkan list tentang barang2 yang akan kamu perlukan. Berikut ini list barang-barang yang telah saya siapkan dan sangat membantu saya  

-         
-          Tas kecil untuk passport dan dokumen penting lainnya.
-          Foto kopi dokumen sebanyak 3 rangkap
-          Kontak orang-orang penting yang dapat dihubungi saat keadaan darurat
-          Baju adat, Baju batik dan bendera
-          Obat-obatan, kamu pasti mengenal minuman antangin atau sejenisnya. Sebaiknya kamu mempersiapkan. Jangan lupa bawa balsem atau minyak kayu putih.
-          Baju formal dan non formal
-          Sandal jepit dan sepatu
-          Senter
-          Jaket
-          Kotak makanan dan peralatan makan
-          Seprai dan sarung bantal
-          Botol air minum
-          Pemanas air
-          Setrika
-          Peralatan mandi
-          Sarung
-          Alat sholat dan al-qu’ran
-          Souvenir berupa kartu pos dan gantungan kunci atau beberapa uang koin
-          Beberapa bumbu instant
-          Video tentang Indonesia dan foto keluarga.
-          Alat tulis menulis
-          Kartu nama

Selain barang-barang diatas, hal yang paling penting adalah siapkan mental kamu untuk hidup di lingkungan baru. Kamu harus beradaptasi menghadapi orang- orang dengan sudut pandang yang berbeda. Dan tentu saja cuaca yang kadang kala cukup ekstrem.semoga list ini cukup membantu kamu. GO EXCHANGE , FACE THE WORLD AND BE THE BEST

Minggu, 03 Agustus 2014

NAMASTE AGAIN !!



Hi, I am back. Ternyata akan ada saat dimana homesick itu akhirnya terasa. Padahal  saya sering menghubungi keluarga via telfon. Mungkin tagihan telfon saya akan sedikit membengkak dibandingkan Irina. Semuanya baik-baik saja. Kecuali rasa rindu yang sering kali menyerang tanpa permisi. Terlebih memori tentang masakan rumah yang selalu timbul di dalam mulut dan menghasilkan rasa ngiler. Makanan disini tidak terlalu buruk. Dua minggu sekali kami makan ayam biryani, atau sejenis nasi kuning dengan tumpukan ayam ditengahnya. Namun, tetap saja saya merindukan kuah soto, coto atau kuah hangat khas makanan Indonesia. Saya akhirnya menyeduh kuah soto instan yang saya bawa dari Indonesia. Saking kangennya, tanpa basa-basi saya langsung menyeruput kuah panas dan melompat spontan dari kursi di kamar saya. Rasanya lumayan, lumayan aneh dari kuah soto sebenarnya. HAHAH
19 Juli 2014 Akhirnya akhir libur tiba juga. Hanya 2 hari, sabtu dan Minggu. Namun efeknya seperti liburan panjang. Saya memutuskan untuk ikut pulang kampung, hahahah. Teman kamar saya akan pulang ke chattisgarh
Saya kemudian ikut-ikutan. Perjalanan di tempuh lebih dari 8 jam. Saya meninggalkan sekolah pada hari Jumat menuju rumah saudara Rajni di kota Ranchi. Mereka menyambut saya dengan penuh hangat. Kakaknya bekerja sebagai asisten dokter. Mereka tinggal di kamar yang terletak tepat dibelakang klinik. Tidak begitu besar, namun rungan ini diisi dengan berbagai perlengkapan. Mulai dari perlengkapan masak hingga tempat tidur terletak dalam satu ruang yang hanya dipisahkan tembok rendah. Mereka mempersiapkan ayam untuk makan malam sebelum kami melanjutkan perjalanan. Setelah makan, kami lalu dijemput mobil untuk menuju stasiun kereta. Transportasi umum di India sangat mirip dengan bajaj di kota Jakarta. Namun, mereka akan menggunakannya rame-rame. Tiba di stasiun kereta kami masih harus menunggu. Ternyata budaya jam karet juga ada di India. Ini yang membuat saya biasa menjadi jengkel. Sebenarnya saya juga biasa ngaret dan tidak tepat waktu. Namun, semenjak berteman dengan beberapa orang asing, saya mulai terbiasa dengan buadaya on time mereka. Dan ternyata orang dengan budaya jam karet sangatlah menjengkelkan.
Saya duduk dan mencoba mengamati setiap sudut stasiun. Beberapa orang dengan santainya merebahkan kain dan tidur di lantai stasiun yang penuh debu. Bahkan seorang ibu tua duduk dilantai dan memeluk lututnya, meringkuk dan tertidur dengan pulas. Mungkin menurut sebagaian orang hidupnya sangatlah sengsara dan menderita, namun, dari senyum tulus yang dia berikan, terlihat jelas bahwa dia menikmati hidup.
Saya teringat kata-kata dari selembar Koran yang terletak di ruang tamu sekolah saya
“Setiap orang harus menjadi kaya raya dan berlimpah dengan uang, agar mereka tau bahwa itu bukan jaminan untuk menjadi bahagia”
Ketika jam menunjukkan pukul 10.45 malam, kereta kemudian tiba dan saya melangkahkan kaki memasuki gerbong dengan tulisan Sleeper. Fasilitasnya berupa kursi panjang yang cukup luas dan nyaman untuk baring. Sayangnya, teman saya sepertinya salah mengambil tempat yang terletak dekat wc umum. Bau yang cukup mengganggu membuat saya tidak bisa tidur dengan nyaman. Saya hanya baring dengan headset dan music ringan berusaha untuk tidur. Bau yang menyengat ini hilang begitu kereta melaju. Syukurlah, saya bisa sedikit tidur sebelum tiba di perehentian selanjutnya. Di tengah kereta melaju, saya ke kamar kecil. Setelah selesai saya mencoba membuka pintu dan gagal. Saya panic dan memukul pintu dengan keras. Beberapa kali saya berteriak memanggil Rajni, namun tidak seorang pun mencoba membuka pintu dari luar. Saya terkunci dan terus berteriak dan memukul pintu kamar mandi. Dengan mudah Rajni kemudian membuka pintu dari arah luar yang ternyata arah gagang pintu kamar mandi kereta yang berbeda membuat saya sulit untuk membuka pintu. Begitu berhasil keluar, beberapa orang telah berkerumun karena suara teriakan saya yang cukup mengganggu. Saya berhasil menarik perhatian, hahahaha.
Tiba di stasiun kereta kami masih harus melanjutkan perjalanan dengan bus. Sebenarnya saya tidak begitu suka dengan perjalan ini. Segala fasilitas umum tidak begitu nyaman, saya ingin menangis dan kemudian tersadar bahwa ini keinginan saya sendiri. Saya tidak punya pilihan selain menikmatinya.
“Let everything around you be bad, but never let anything to take your happiness”
Liburan kali ini sangat berbeda dengan liburan lainnya. Saya belajar mandi di ruang terbuka dengan pakaian lengkap berkerudung. Saya tidak punya pilihan. Orang-orang di desa ini terbiasa mandi menggunakan sarung dan mandi dengan leluasa di sumur ruang terbuka. Atau setiap kali saya ingin buang air kecil saya harus ke semak-semak dan bersembunyi.  Ini seperti liburan saya ketika mendaki gunung.
Namun, mereka menjamu saya dengan luar biasa. Mereka memanggil saya madam dan berusaha menjamu saya sebaik mungkin. Ketika kami harus tidur lantai, mereka memberikan saya kasur tipis dan selimut tebal sedangkan mereka hanya beralaskan tikar seadanya. Saya berusaha menolak, namun mereka bilang mereka terbiasa. Saat subuh menjelang mereka ke hutan mencari jamur untuk hidangan makan siang. Saya tidak bisa memberikan apa-apa. Selain sebuah lagu India Kuch-kuch Hotahai yang mungkin sudah puluhan kali saya dendangkan untuk menghibur orang-orang sekeliling saya. Dan mereka tertawa senang setiap kali saya berusaha berbahasa India.  
Pengalaman ini membuat saya berfikir “We don’t need luxurious thing, we need precious moment”. Saya meneteskan air mata saat berpisah dengan mereka. Liburan ini begitu bermakna membuat saya lebih menghargai dengan apa yang telah saya miliki.
Mereka memeluk saya dan berusaha menyampaikan pesan dalam bahasa India yang artinya “Madam, we always wait you for the next time”. Saya meninggalkan jas hujan merah untuk anak perempuan mereka yang setiap hari ke sekolah dengan menggunakan sepeda . hanya itu yang bisa saya berikan setelah mereka mengajarkan banyak hal tentang hidup. Ini lah mengapa saya menyarankan setiap anak muda untuk mengambil kesempatan magang di tempat jauh dari zona nyaman. I will put some pictures about my holiday on my facebook soon !


To be continued …..